Sholat tahajjud yang dimaksudkan Prof.Sholeh bukan sekedar
menggugurkan status sholat yang muakkadah (sunnah yang sangat
dianjurkan). Ia menitik beratkan pada sisi rutinitas sholat, ketepatan
gerakan, kekhusukan, dan keikhlasan.
Selama ini, kata beliau, ulama melihat masalah ikhlas ini sebagai
persoalan mental psikis. Namun sebetulnya soal ini dapat dibuktikan
dengan teknologi kedokteran.
Ikhlas yang selama ini dipandang sebagai misteri, dapat dibuktikan
secara kuantitatif melalui sekresi hormon kortisol. Parameternya, lanjut
Prof.Sholeh, bisa diukur dengan kondisi tubuh.
Pada kondisi normal, jumlah hormon kortisol pada pagi hari
normalnya antara 38-690 nmol/liter. Sedang pada malam hari atau setelah
pukul 24:00 normalnya antara 69-345 nmol/liter. “Kalau jumlah hormon
kortisolnya normal, bisa diindikasikan orang itu tidak ikhlas karena
tertekan. Begitu sebaliknya”, ujarnya seraya menegaskan temuannya ini
yang membantah paradigma lama yang menganggap ajaran agama (Islam)
semata-mata dogma atau doktrin.
Prof.Sholeh mendasarkan temuannya itu melalui satu penelitian
terhadap 41 responden siswa SMU Luqman Hakim Pondok Pesantren
Hidayatullah, Surabaya. Dari 41 siswa itu, hanya 23 yang sanggup
bertahan menjalankan sholat tahajjud selama sebulan penuh. Setelah diuji
lagi, tinggal 19 siswa yang bertahan sholat tahajjud selama dua bulan.
Sholat dimulai pukul 02-00-3:30, sebanyak 11 raka’at, masing-masing dua
raka’at empat kali salam, ditambah tiga raka’at Sholat Witir.
Selanjutnya, hormon kortisol mereka diukur di tiga laboratorium di
Surabaya (Paramita, Prodia dan Klinika).
Hasilnya, ditemukan bahwa kondisi tubuh seseorang yang rajin
bertahajjud secara ikhlas berbeda dengan orang yang tidak melakukan
tahajjud. Mereka yang rajin dan ikhlas bertahajud memiliki ketahanan
tubuh dan kemampuan individual untuk menanggulangi masalah-masalah yang
dihadapi dengan stabil.
“Jadi sholat tahajjud selain bernilai ibadah, juga sekaligus
penuh dengan muatan psikologis yang dapat mempengaruhi kontrol
kognisi. Dengan cara memperbaiki persepsi dan motivasi positif dan
coping yang efektif, emosi yang positif dapat menghindarkan seseorang
dari stress.”
Nah, menurut Prof. Sholeh, orang stress itu biasanya rentan sekali
terhadap penyakit kanker dan infeksi. Dengan sholat tahajjud yang
dilakukan secara rutin dan disertai perasaan ikhlas serta tidak
terpaksa, seseorang akan memiliki respons imun (daya tahan tubuh) yang
baik, yang kemungkinan besar akan terhindar dari penyakit infeksi dan
kanker. Dan, berdasarkan hitungan teknik medis menunjukan, sholat
tahajjud yang dilakukan seperti itu membuat orang mempunyai ketahanan
tubuh yang baik.
Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui
semua rahasia atas rahmat, nikmat dan anugrah yang diberikan oleh ALLAH
kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita?
Seorang Doktor di Amerika telah memeluk Islam karena beberapa
keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum
dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal
fikiran. Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia
amat yakin dengan pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu ia telah
membuka sebuah klinik yang bernama “Pengobatan Melalui Al-Qur’an”.
Kajian pengobatan melalui Al-Qur’an menggunakan obat-obatan yang
digunakan seperti yang terdapat di dalam Al-Quran. Di antaranya
berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.
Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka
Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan,
terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki
oleh darah. Padahal setiap inchi otak manusia memerlukan darah yang
cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal.
Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan
bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut
melainkan ketika seseorang tersebut sholat yaitu ketika sujud. Urat
tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya
darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sholat 5 waktu
yang diwajibkan oleh Islam.
Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak
menunaikan sholat maka otak tidak dapat menerima darah yang cukup untuk
berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya
adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena sifat fitrah
kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah
ini.
Kesimpulannya : Makhluk Allah yang bergelar manusia yang
tidak sholat apalagi bukan yang beragama Islam walaupun akal mereka
berfungsi secara normal tetapi sebenarnya dalam suatu keadaan mereka
akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Oleh
karena itu, tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan
untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya
walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut
adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa
mempertimbangkan secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul
bermacam-macam gejala-gejala sosial masyarakat saat ini.
Dengan mengetahui manfaat dan keajaiban dari Sholat Tahajjud di atas, masihkah kita “enggan dan malas” melaksanakannya?




